Kamis, 29 November 2012

Parade Gandrung Sewu

Berita
Oleh Cah Ngabmoj

Para penari parade seribu gandrung

Hari Sabtu 17 Nopember 2012  sekitar pukul 15.00 WIB, bertempat di Pantai Boom Banyuwangi digelar pertunjukan sendratari tradisional asli Banyuwangi yang cukup terkenal
yaitu tari Gandrung.  Berbeda dengan pagelaran tari gandrung yang selama ini ada, pertunjukan kali ini tergolong kolosal karena diikuti 1.000 lebih penari dari siswa SD, SMP, dan SMA sewilayah kabupaten Banyuwangi.  Pertunjukan ini dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian kegiatan dalam  rangka memperingati hari jadi kabupaten Banyuwangi yang ke-241 yang tepatnya  jatuh pada tanggal 17 Desember 2012 nanti. Sebagai informasi Pemkab Banyuwangi menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang bertajuk Banyuwangi Festifal diantaranya Festival Anak Yatim yang sudah dilaksanakan kemarin Kamis 15 Nopember 2012, Parade Gandrung Sewu yang dilaksanakan hari ini, Festival Jazz (17 Nopember 2012 jam 19.00), Banyuwangi Ethno Carnival tanggal 18 Nopember 2012, dan masih banyak lagi.


Tari Gandrung dipilih karena   dianggap sebagai ikon Banyuwangi yang harus dilestarikan dan diharapkan akan digandrungi semua kalangan, terutama kalangan muda dan diharapkan menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Tari Jejer Gandrung dalam berbagai macam versi (Jejer Jaran Dawuk, Jejer Gandrung Dor) merupakan tarian yang sudah sangat dikenal baik di Banyuwangi sendiri, maupun secara nasional. Sebagai kesenian asli Banyuwangi, Gandrung memang banyak digandrungi masyarakat Banyuwangi. Gandrung banyak dibawakan masyarakat Banyuwangi, mulai dari usia kanak-kanak hingga dewasa.  Begitu besarnya perhatian terhadap Gandrung maka perlu disediakan media aktualisasi secara masal bagi para penari Gandrung yang ada di Banyuwangi. Hal ini sekaligus juga untuk lebih mengenalkan dan menguatkan Gandrung sebagai bagian yang tidak terpisah dari sebuah cerita tentang Banyuwangi.
Gandrung merupakan kesenian peninggalan Majapahit. Pada masa itu hanya ditarikan di istana. Gandrung berasal dari bahasa jawa yang berarti cinta atau kekaguman. Kekaguman ini diidentikkan kekaguman pada Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Banyuwangi saat itu merupakan wilayah yang makmur, hasil panennya selalu melimpah ruah. Filosofi tari Gandrung yang merupakan penghormatan terhadap Dewi Sri inilah yang menjadi spirit masyarakat untuk mengembangkan Gandrung. Sehingga dalam perkembangannya kesenian Gandrung masuk ke dalam kehidupan masyarakat secara luas. Pada awal perkembangannya, Gandrung dibawakan oleh remaja putra (bukan wanita), karena pertunjukan itu dilakukan saat malam hari di malam Bulan Purnama. Penari Gandrung lanang yang paling termasyur bernama Marsan yang menari sampai akhir hayatnya. Yang dikenal dengan Gandrung Marsan. Penari Gandrung wanita pertama adalah Semi yang mulai menari pada tahun 1895. Semi jadi penari Gandrung setelah sakit. Dan sembuhnya diundangkan ritual Seblang. Mulai saat itulah Semi menari sebagai Seblang keliling dan kemudian secara bertahap berevolusi menjadi penari Gandrung.

Acara kali ini dimulai dengan pertunjukan berbagai macam kesenian lokal Banyuwangi, kemudian dilanjutkan dengan ditampilkannya 200 penari profesional pelaku sendratari karya Sumitro Hadi yang menceritakan sejarah gandrung dari masa ke masa dengan diiringi 23 penabuh gamelan dan 2 orang sinden. Sesi berikutnya, fragmen Gandrung yang akan dimulai dari kemunculan Gandrung hingga prosesi bagaimana seorang penari ditasbihkan menjadi Gandrung. Performance parade ini diakhiri dengan tarian massal 1.000 Gandrung dan ditutup dengan Seblang Subuh, sebagai bagian akhir pertunjukan Gandrung yang sarat dengan filosofi dan religius. Di akhir penampilannya, seribu Gandrung kompak meneriakkan: "Isun Gandrung......gandrungono!". Artinya: "Saya Gandrung, cintailah...," Pertunjukan ini berlangsung selama kurang lebih satu jam.

Seluruh performer menari langsung di tepi pantai. Tidak beralaskan panggung, namun langsung menjejak pasir Pantai Boom yang merupakan pantai yang terletak di kota Banyuwangi yang berjarak sekitar 2 km dari dari pusat kota Banyuwangi, dimana yang pada hari-hari biasa pantai ini cukup ramai dikunjungi masyarakat Banyuwangi karena pantainya yang lumayan bagus, dan untuk masuk ke lokasi ini tidak dipungut biasa alias gratisan. Apalagi pada hari Sabtu atau Minggu.  Dari pinggir pantai tersebut, pengunjung bisa menikmati lepas Selat Bali dan melihat langsung Pulau Bali dari kejauhan.

Pada pertunjukan yang dilakukan secara kolosal untuk pertama kalinya di Banyuwangi  ini, ribuan masyarakat dari anak-anak hingga orang tua begitu antusias ingin menyaksikan pertunjukan tersebut.  Walaupun acara baru dimulai pukul 15.00, namun sejak pukul 12.00 Pantai Boom sudah ramai di padati pengunjung. Bukan hanya masyarakat dari kota Banyuwangi saja tetapi juga ada dari kota-kota sekitar seperti Jember, Situbondo, Bondowoso, dan kota-kota di Jawa Timur, bahkan terlihat juga wisatawan mancanegara yang turut menyaksikan pertunjukan ini. Untuk menyaksikan pertunjukan ini pengunjung tidak dipungut biaya atau gratis dan lebih tak ubahnya seperti pesta rakyat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas selesai acara

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan Parade Gandrung Sewu tersebut bertujuan untuk mengangkat budaya lokal agar dikenal masyarakat secara luas. "Gandrung jadi ikon pariwisata Banyuwangi," kata dia, Sabtu 17 November 2012. Mudah-mudahan dengan diselenggarakan acara seperti ini diharapkan masyarakat terutama anak-anak lebih mengenal dan selanjutnya mencintai kesenian daerah yang merupakan aset budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Diharapkan juga untuk mengurangi dampak masuknya pengaruh budaya asing, seperti yang lagi ngetrend saat ini tarian Gang Nam Style.  Tetapi yang tidak kalah penting hendaknya pemerintah lebih memperhatikan aset budaya bangsa ini dengan mematenkan di Unesco misalnya, sehingga tidak terdengar lagi adanya kesenian daerah Indonesia yang di klaim oleh negara tetangga sebagai kesenian asli negara tersebut.
Salam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar