Minggu, 13 Januari 2013

Sudahkah menjaga diri dan keluarga dari api neraka?


Ma'af bukan bermaksud berdakwah, hanya reportase kebetulan Jum'at 14 Desember 2012 kemarin mengikuti sholat jum'at di masjid kanwil DJP Jatim III Malang, dengan tema yang menurut penulis cukup menarik .  Di masjid yang  berukuran sekitar 20 m X 20 m yang dipenuhi jama'ah tersebut Khatib dalam khutbah jum'atnya menukil surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi:


Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”.(At-Tahrim : 6)

Menjaga keluarga dari siksa api neraka adalah wajib hukumnya, sebagaimana disampaikan Alloh dalam firman-Nya diatas. yang menjadi pertanyaan barangkali bagaimana caranya kita melakukannya, tidak lain adalah dengan ilmu. Ilmu dapat membimbing, menuntun kita kepada jalan yang semestinya kita lalui, dengan ilmu kita terbimbing kepada tujuan yang kita harapkan yaitu Jannah. Ilmu bak cahaya dikegelapan malam. maka tidak heran kalau Alloh dan Rosulnya menyanjung orang-orang yang berilmu di dalam firman-Nya dan sabdanya.


Untuk memenuhi kebutuhan ini mestinya kita mengajarkan kepada keluarga kita akan ilmu. Karena itu, adh-Dhahhak dan Muqatil menafsirkan ayat tersebut diatas , "Wajib bagi setiap muslim, mengajarkan
keluarganya, kerabat dan hamba sahayanya akan apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka, dan apa yang dilarang-Nya.” Hal senada dikatakan oleh At-Thabari, “Hendaknya kita mengajari anak-anak dan
keluarga kita masalah agama dan kebaikan, serta apa-apa yang penting dan dibutuhkan dalam persoalan adab dan akhlak.

Khatib juga menyampaikan agar kita sebagai seorang muslim mengajarkan rasa malu atau menanamkan budaya malu kepada istri dan anak-anak kita. Hadits Shahih Bukhari ke-24 : َDari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata, "Rasulullah SAW lewat di hadapan seorang Ansar yang sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu. Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman". Khatib mencontohkan salah satu yang perlu kita jaga dalam menumbuhkan rasa malu adalah cara kita berpakaian. Dalam islam tuntunan dalam berpakaian baik muslim maupun muslimah sebenarnya sudah jelas. Salah satunya agar pakaian yang kita kenakan biisa menutup aurat kita. Untuk laki-laki minimal dari lutut sampai ke pusar, sedangkan untuk perempuan ada dua pendapat, pendapat pertama aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan pendapat kedua adalah seluruh tubuh kecuali mata dan telapak tangan. Maka untuk muslimah terkadang kita jumpai yang pakai cadar ada juga yang pakai  jilbab dengan muka masih kelihatan. Dan kalau kita menemui muslimah yang memakai cadar sehingga cuma kelihatan matanya saja bukan berarti mereka adalah istri teroris, karena cara berpakaian yang demikian ini memang juga diajarkan dalam   islam. Memang kalau kita ikuti pemberitaan media selama ini kebetulan istri para tersangka teroris berpakaian seperti ini. Karena sebetulnya islam mengutuk aksi-aksi kekerasan apalagi yang sampai menewaskan orang-orang yang tidak bersalah.

Sekali lagi khatib mengajak hadirin untuk instrupeksi diri apakah istri dan anak-anak kita sudah berpakaian sesuai tuntunan? Karena fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia yang katanya lebih 90% beragama islam tersebut tetapi apa yang kita temui  justru sebaliknya, muslimin dan muslimat mengumbar aurat bahkan untuk perempuan banyak kita temui yang walaupun berpakaian tapi maaf bisa dikatakan setengah telanjang. Banyak kita jumpai kaum muslimin ketika berolahraga memakai pakaian yang mempertontonkan aurat, apalagi kaum muslimatnya. Naudzubillah.

Khatib juga mengingatkan ditengah begitu gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi yang memang semakin hari bukannya semakin berkurang, sebagai orang tua disamping membudayakan rasa malu kita hendaknya menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak-anak kita. Minimal kita sampaikan agar kalau ujian tidak mencontek atau ngerpek. Kita tanamkan pada anak bahwa Allah selalu mengawasi kita. Untuk apa kita mendapat nilai bagus tetapi melakukan kecurangan yang pasti dicatat oleh Allah dan akhirnya akan masuk neraka. Ini hanya salah cara mengajarkan nilai kejujuran pada anak-anak kita yang semakin dini akan semakin baik. Tetapi kita lihat yang terjadi di masyarakat kita seorang guru maupun orang tua hanya karena gengsi si anak agar mendapatkan nilai yang baik disekolah tidak jarang menghalalkan segala cara. Mungkin masih ingat kasus salah satu SD  di Surabaya yang sempat meramaikan pemeberitaan dimana sang guru yang seharusnya menjadi tauladan malah memberikan bocoran jawaban kepada siswanya hanya karena alasan agar tingkat kelulusan di SD tersebut tinggi. Kalau sudah demikian apa yang bisa kita harapkan?

Diakhir khutbahnya khatib kembali mengajak kepada hadirin “Marilah kita nafkahi  keluarga kita dengan rizki yang halal. Jangan biarkan sedikitpun dalam darah diri dan keluarga kita mengalir makanan atau minuman dari hasil korupsi. Karena dengan membiarkannya berarti kita membiarkan mereka untuk disiksa di neraka jahanam”
Untuk itu patut kita tanyakan pada diri kita sudahkah menjaga anak dan istri kita dari api neraka?
Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar